header image
 

menuju pintu surga

930941_20060711_screen010

Membentuk Keluarga Sakinah wa Rahmah

 

Memasuki dunia baru bagi pasangan baru, atau
    lebih dikenal dengan pengantin baru memang merupakan suatu yang membahagiakan.
    Tetapi bukan berarti tanpa kesulitan. Dari pertama kali melangkah ke pelaminan,
    semuanya sudah akan terasa lain. Lepas dari ketergantungan terhadap orang
    tua, teman, saudara, untuk kemudian mencoba hidup bersama orang – yang
    mungkin – belum pernah kenal sebelumnya. Semua ini memerlukan persiapan
    khusus (walaupun sebelumnya sudah kenal), agar tidak terjebak dalam sebuah
    dilema rumah tangga yang dapat mendatangkan penyesalan di kemudian hari. Diantara
    persiapan yang harus dilakukan oleh pasangan baru yang akan mengarungi bahtera
    rumah tangga:

 

    Persiapan mental. Perpindahan dari dunia remaja memasuki fase dewasa – di bawah naungan perkawinan akan sangat berpengaruh terhadap psikologis, sehingga diperlukan persiapan mental dalam menyandang jabatan baru, sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga. Kalaupun sekarang anda telah terlanjur menyandang predikat tersebut sebelum anda sempat berpikir sebelumnya, anda belum terlambat. Anda bisa memulainya dari sekarang, menyiapkan mental anda lewat buku-buku bacaan tentang cara-cara berumah tangga, atau anda dapat
        belajar dari orang-orang terdekat, yang dapat memberikan nasehat bagi rumah tangga anda

engenali Pasangan. Kalau dulu orang dekat anda adalah ibu, teman, atau saudara anda yang telah anda kenal sejak kecil, tetapi sekarang orang yang nomor satu bagi anda adalah pasangan anda. Walaupun pasangan anda adalah orang yang telah anda kenal sebelumnya, katakanlah dalam masa pacaran, tetapi hal ini belumlah menjamin bahwa anda telah benar-benar mengenal kepribadiannya. Keadaannya lain. Masa pacaran dengan lingkungan rumah tangga jauh berbeda. Apalagi jika pasangan anda adalah orang yang belum pernah anda kenal sebelumnya. Disini perlu adanya penyesuaian-penyesuaian.
Anda harus mengenal lebih jauh bagi pasangan anda, segala kekurangan dan
        kelebihannya, untuk kemudian anda pahami bagaimana sebaiknya anda bersikap, tanpa harus mempersoalkan semuanya. Karena sesungguhnya anda bersama pasangan anda hidup dalam rumah tangga untuk saling melengkapi satu dengan yang lainnya, sehingga tercipta keharmonisan.

Menyusun agenda Kegiatan. Kesibukan anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga tentunya akan lebih banyak menyita waktu di banding ketika anda masih sendiri. Hari-hari kemarin bisa saja anda mengikuti segala macam kegiatan yang anda sukai kapan saja anda mau. 
Persoalannya sekarang adalah anda tidak sendiri, kehadiran pasangan anda
        disamping anda tidak boleh anda abaikan. Tetapi anda tak perlu menarik diri dari aktifitas atau kegiatan yang anda butuhkan. Anda dapat membuat agenda untuk efektifitas kerja, anda pilah, dan anda pilih kegiatan apa yang sekiranya dapat anda ikuti sesuai dengan waktu yang anda miliki dengan tanpa mengganggu tugas anda sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga.

Mempelajari kesenangan pasangan. Perhatian-perhatian kecil akan mempunyai nilai tersendiri bagi pasangan anda, apalagi di awal perkawinan anda. Anda dapat melakukannya dengan mempelajari kesenangan pasangan anda, mulai dari selera makan, kebiasaan, hobi yang tersimpan dan lainnya. Tidak menjadi masalah jika ternyata apa yang disenanginya tidak anda senangi. Anda bisa mempersiapkan kopi dan makanan kesukaannya disaat pasangan anda yang punya hobi membaca sedang membuka-buka buku. Atau anda bisa sekali-kali menyisihkan waktu untuk sekedar mengantar pasangan anda berbelanja, untuk menyenangkan hatinya. Atau kalau mungkin anda bisa memadukan hobi anda yang ternyata sama, dengan demikian anda telah memasang saham kasih sayang di hati pasangan anda sebagai kesan pertama, karena kesan pertama akan selalu diingatnya. Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda (kayak iklan saja). Dan anda bisa menjadikannya sebagai kebiasaan yang istimewa dalam rumah tangga anda.


Adaptasi lingkungan. Lingkungan keluarga, famili dan masyarakat baru sudah pasti akan anda hadapi. Anda harus bisa membawa diri untuk masuk dalam kebiasaan-kebiasaan (adat) yang ada di dalamnya. Kalau anda siap menerima kehadiran pasangan anda, berarti pula anda harus siap menerimanya bersama keluarga dan masyarakat disekitarnya. Awalnya mungkin anda akan merasa asing, kaku, tapi semuanya akan terbiasa jika anda mau membuka diri untuk bergaul dengan mereka, mengikuti adat yang ada, walaupun anda kurang menyukainya. Sehingga akan terjalin keakraban antara anda dengan keluarga, famili dan lingkungan masyarakat yang baru. Karena hakekat pernikahan bukan perkawinan antara anda dan pasangan anda, tetapi, lebih luas lagi antara keluarga anda dan keluarga pasangan anda, antara desa anda dengan desa pasangan anda, antara bahasa anda dengan bahasa pasangan anda, antara kebiasaan (adat) anda dengan kebiasaan pasangan anda. Dst.


Menanamkan rasa saling percaya. Tidak salah jika suatu
        saat anda merasa curiga dan cemburu. Tetapi harus anda ingat, faktor apa
        yang membuat anda cemburu dan seberapa besar porsinya. Tidak lucu jika
        anda melakukannya hanya dengan berdasar perasaan. Hal itu boleh saja untuk
        sekedar mengungkapkan rasa cinta, tetapi tidak baik juga kalau terlalu
        berlebihan. Sebaiknya anda menanamkan sikap saling percaya, sehingga anda
        akan merasa tenang, tidak diperbudak oleh perasaan sendiri. Yakinkan,
        bahwa pasangan anda adalah orang terbaik yang anda kenal, yang sangat
        anda cintai dan buktikan juga bahwa anda sangat membutuhkan kehadirannya,
        kemudian bersikaplah secara terbuka.

  • Musyawarah. Persoalan-persoalan yang timbul dalam rumah
            tangga harus dihadapi secara dewasa. Upayakan dalam memecahkan persoalan
            anda mengajak pasangan anda untuk bermusyawarah. Demikian juga dalam mengatur
            perencanaan-perencanaan dalam rumah tangga, sekecil apapun masalah yang
            anda hadapi, semudah apapun rencana yang anda susun. Anda bisa memilih
            waktu-waktu yang tepat untuk saling tukar pikiran, bisa di saat santai,
            nonton atau dimana saja sekiranya pasangan anda sedang dalam keadaan bugar.
  • Menciptakan suasana Islami. Suasana Islami ini bisa
            anda bentuk melalui penataan ruang, gerak, tingkah laku keseharian anda
            dan lain-lain. Sholat berjama’ah bersama pasangan anda, ngaji bersama
            (tidak perlu setiap waktu, cukup habis maghrib atau shubuh), mendatangi
            majlis ta’lim bersama dan memnbuat kegiatan yang Islami dalam rumah
            tangga anda. Hal ini akan menambah eratnya ikatan bathin antara anda dan
            pasangan anda. Dari sini akan terbentuk suasana Islami, Sakinah, Mawaddah
            wa Rahmah. Insya’allahLambang_konoha

    Naruto2

Samanosuke_akechi